
Bila Anda hendak ke Bali melalui jalur utara Pulau Jawa,
sebelum tiba di Banyuwangi Anda akan melewati Watudodol. Letaknya di pinggir
pantai, ditandai dengan patung Gandrung, ikon Banyuwangi.
Wisata alam Pantai Watu Dodol berada di wilayah administrasi
Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi, letaknya yang berada di perlintasan
jalur yang menghubungkan Banyuwangi dan Situbondo membuat obyek wisata ini
sangat mudah diakses baik dari arah Situbondo maupun dari arah Banyuwangi kota.
Sebuah batu besar di tengah jalan menjadi petunjuk bahwa Anda berada di kawasan watudodol
Keunikan wisata Watu Dodol
Watu Dodol
Watu Dodol merupakan batu karang berwarna hitam yang sangat keras
serta memiliki bentuk yang unik, yaitu bagian atasnya lebih besar
daripada dasarnya. Pada bagian selatan sisinya, tumbuh sebatang pohon
kelor yang menambah keunikan batu tersebut. Meskipun dulu terlihat
angker, tetapi kini Watu Dodol terlihat asri karena dihiasi taman
sebagai jalur hijau.
Patung gandrung
Patung Gandrung (tarian khas Banyuwangi) dengan tulisan
Selamat Datang di Kabupaten Banyuwangi menjadi penghias gerbang masuk ke Kabupaten Banyuwangi.
Sumur air tawar
Sumur air tawar berlokasi di area Pantai Watu Dodol. Penduduk
setempat membatasinya dengan dinding yang terbuat dari batu. Air tawar
yang dikeluarkan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Gua Jepang
Gua Jepang digunakan sebagai benteng pertahanan pada masa Perang Dunia II serta digunakan untuk mengawasi setiap kapal yang melintasi Selat Bali.
Gua tersebut menghubungkan pintu gua dari sisi bukit menuju ke pintu
gua di puncaknya. Kondisi gua kini kurang terawat dan tertutupi
semak-semak sehingga sulit untuk ditemukan, kecuali bagi orang yang
sudah mengetahui dengan pasti lokasinya.
Wisata dan peristirahatan tepi pantai
Pantai Watu Dodol dilengkapi tempat peristirahatan sementara bagi
pengendara yang melintasi jalur Situbondo-Banyuwangi. Kawasan wisata
pantai ini dilengkapi fasilitas parkir yang luas, warung-warung yang
menyediakan makanan khas Banyuwangi, toko-toko yang menjual kebutuhan
sehari-hari dan telepon seluler, kamar mandi bagi wisatawan yang bermain
di pantai, dan persewaan perahu nelayan untuk ke tengah laut. Lokasi
pantai cukup rindang karena banyak ditumbuhi pepohonan. Selain dibatasi
laut di sebelah timur, lokasi wisata juga langsung berbatasan dengan
bukit dan hutan, serta dekat dengan lokasi Watu Dodol.
Hotel dan restoran
Lokasi Watu Dodol berdekatan dengan Pelabuhan Ketapang sehingga
seringkali menjadi tempat peristirahatan bagi para pelancong yang hendak
menuju atau dari Pulau Bali. Hotel yang terdapat di Kawasan Wisata Watu Dodol adalah Hotel Watu Dodol . Restoran yang berada di lokasi Kawasan Wisata Watu Dodol adalah Restoran Melaties.
Legenda
Kawasan Wisata Watu Dodol terkenal akan berbagai legenda mistisnya yang turut menarik perhatian wisatawan untuk datang.
Nama Watu Dodol
Pada masa Blambangan diperintah oleh Minak Jinggo, sempat terjadi peperangan antara pasukan Blambangan dengan Majapahit. Pasukan Blambangan mengalami kekalahan sehingga banyak yang melarikan diri menuju pantai di utara.
Seorang prajurit Blambangan membawa bekal berupa
jadah
(sejenis dodol, yaitu jenang ketan berbentuk lonjong seukuran telapak
tangan). Saat beristirahat di tepi pantai, bekal yang ia bawa
tertinggal. Dodol tersebut akhirnya berubah menjadi Watu Dodol
Chen Fu Zhen Ren
Chen Fu Zhen Ren
adalah seorang arsitek yang memenuhi sayembara Raja Mengwi untuk
membangun sebuah taman kerajaan dalam kurun waktu tertentu. Namun,
hingga tiga hari dari batas waktu yang ditentukan, arsitek tersebut
belum membangun apa-apa. Selama ini Raja Mengwi terus memberinya
peringatan, tetapi sang arsitek terlihat acuh. Pada malam di hari ketiga
sebelum batas waktu berakhir, tiba-tiba saja taman istana yang sangat
indah muncul begitu saja.
Semua orang terkejut. Raja Mengwi memerintahkan untuk menangkap sang
arsitek karena takut. Pada malam harinya, dua orang prajurit yang
ditugaskan menjaga sang arsitek membawanya kabur ke Blambangan karena
mereka menganggap sang arsitek sebenarnya tidak bersalah apa-apa. Tidak
seberapa jauh, pelarian mereka diketahui dan mereka dikejar hingga
menyeberangi Selat Bali. Kedua prajurit tersebut bertempur mati-matian
melindungi sang arsitek dan akhirnya tewas, sementara sang arsitek yang
terkepung berubah menjadi batu berukuran besar dengan bentuk aneh, yaitu
bagian atasnya lebih besar dari bawahnya. Penduduk setempat memakamkan
kedua prajurit di puncak bukit di dekat Watu Dodol (makamnya masih
sering dikunjungi hingga sekarang oleh berbagai kalangan kepercayaan dan
agama), sementara batu besar itu disebut Watu Dodol dan masih
dikeramatkan hingga sekarang
Kyai Semar
Legenda ini diperkirakan bukan berasal dari masyarakat setempat (orang Using - penduduk asli Blambangan) karena mereka tidak mengenal pewayangan. Dikisahkan bahwa Semar
berjualan di pantai Watu Dodol, tetapi bahan yang ia jual terguling.
Berasnya yang tumpah menjadi hamparan pasir putih, sementara pikulan
kayunya terlempar dan menancap di sela-sela Watu Dodol. Pikulan kayu
tersebut tumbuh menjadi Pohon Kelor.
Konon kayu kelor dapat menghilangkan segala ilmu kanuragan jika
bersentuhan dengannya. Bekal air minum Kyai Semar yang tumpah menjadi
sumber air tawar yang mengalir di bibir pantai
Pasukan Jepang berusaha memindahkan Watu Dodol
Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, pasukan Jepang pernah
berupaya untuk memindahkan Watu Dodol karena mengganggu transportasi
mereka. Puluhan orang dikerahkan untuk memotong Watu Dodol agar lebih
mudah dipindahkan, tetapi ternyata tidak membawa hasil. Saat hendak
digulingkan dengan ditarik kapal, ternyata Watu Dodol tetap bergeming,
malah konon kapal yang menarik akhirnya tenggelam.
Perbaikan jalan Situbondo-Banyuwangi
Awalnya Watu Dodol terletak di sisi Timur jalan yang menghubungan
Situbondo dengan Banyuwangi. Pada saat dilakukan pelebaran jalan,
pemerintah setempat bermaksud memindahkan lokasi Watu Dodol yang menjadi
ikon wisata daerah tersebut. Hal itu disebabkan pelebaran jalan lebih
memungkinan dilakukan pada sisi timur, karena sisi barat jalan merupakan
sebuah bukit. Setelah susah payah mendongkrak dan menggulingkan Watu
Dodol, keesokan harinya Watu Dodol kembali tertancap di tempat semula.
Setelah kejadian tersebut, Watu Dodol tidak pernah diganggu lagi. Itulah
sebabnya kini Watu Dodol berada di tengah dua ruas jalan. Pemerintah
setempat memperindah situs tersebut dengan menambahkan taman kecil di
sekelilingnya.
Makam dua Putri
Seorang penganut aliran Kejawen
yang bertapa di kawasan makam Watu Dodol pada tahun 2012 menceritakan
bahwa ia memperoleh penglihatan. Dalam penglihatan itu, ia ditunjukkan
bahwa sepasang makam keramat di kawasan Watu Dodol merupakan makam
sepasang putri kerajaan yang diungsikan.